Batman Begins - Help Select expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Sabtu, 10 Januari 2015

DERMAGA yang BERKARAT

- entahlah.
mungkin ini hanya mimpi.
jatuh ke dalam tumpukan mawar kering.
berbaring di atas ngiup tanah yang basah.
senja datang
membawa semua pasukannya
menghujat dan menjajah
dengan peluru bernama kegelisahan
aku setia disini
memakan hati dan perasaanku sendiri
aku setia jengah di dermaga ini
menunggumu kembali -
Ombak masih mengguyur tepi pantai dengan damai. Cahaya langit biru juga tetap terang menyinari laut yang berpantul biru. Ah, tentang puisi itu?, ya, mereka sering membacanya setiap sore. Lalu saat semua pujaan hati dan malaikat kecil mereka terlelap dalam malam, mereka pergi berbondong-bondong ke tepian pantai sambil membawa nyala api kecil yang terjebak di sumbu obor mereka.
Mereka adalah sekumpulan pria tegap berkulit hitam dengan jala-jala usangnya. Bermata tajam dengan otot yang melukis tubuh. Tatapannya lurus ke depan, malah jauh melayang menembus gemuruh air yang setiap saat menggumuli mereka. Mereka juga gemar bertaruh nyawa. Menggantungkan hidup di seutas layar dan dayung di tangan, dilempar peluh dan darah, bergulat dengan penyambung hidup diri sendiri, juga penyambung hidup keluarganya. Yakni ikan laut.
Mereka tidak pernah tidur. Hampir. Saat subuh mereka masih bergulat di samudera ganas. Pulang dan mengumpulkan hasil pada pagi yang masih awal. Mencari dan menjual pada tengkulak di fajar sampai siang terik. Sisanya? tadi sudah kuberitahu saat sore mereka membaca puisi itu, lalu kembali menebar jala dan bergumul dengan alam sampai pagi hinggap kembali. Kehidupan mereka bisa dinilai biasa. Istri-istri mereka kadang yang membuat mereka masih menyisakan senyum di sisa-sisa hari yang lusuh, pula dengan jumlah biaya kehidupan anak mereka yang dari hari ke hari makin besar yang membuat senyum itu kembali luntur. Ikan-ikan juga pergi meninggalkan pantai mereka. Kebahagiaan mereka berbanding kecil sekali bukan? Sungguh. Kalau aku orang jahat mungkin aku sudah tertawa terbahak-bahak.
“akhir-akhir ini ikan sudah jarang mampir di jala” ucap salah satu mereka sambil mengusap peluh di keningnya.
“aku juga sudah tidak tahu harus bagaimana, biaya hidup keluargaku semakin besar, aku tidak mampu menampungnya, namun aku ingin melihat anakku bersekolah dan sukses di kemudian hari” ucap salah satu mereka yang lain.
“suruh saja anakmu jadi nelayan, teman. Harapan seperti itu kecil untuk orang seperti kita”
“sudah, sudah. Sore sudah tiba, mari kita ke dermaga dan membaca puisi seperti biasa” setelah pembicaraan usai.
Mereka beramai-ramai pergi ke dermaga tua sambil bernyanyi. Berlagak seperti pemain opera tunggal berias tebal yang menyembunyikan semua yang terjadi di balik topengnya. Namun banyak yang tidak mendukung opera bohongan itu, buktinya, ada yang meneteskan air dari matanya, ada juga yang terisak, bahkan ada yang menantang langit sambil mengucapkan sumpah serapah dengan genangan air yang turut tumpah di pipi mereka. Kau lihat? Bahkan mereka sudah tidak sanggup menyembunyikan.
Dermaga tua itu sudah sering menjadi saksi kesedihan mereka. Bahkan mungkin air laut di bawahnya sudah berubah menjadi kumpulan air mata yang juga meresap di butir-butir kecil pasir. Laut tidak bisa ikut menangis. Tidak ada rasa yang ia kecap kecuali asin. Begitu juga burung yang sering berterbangan di dekat dermaga, apa yang akan mereka rasakan kecuali rasa khawatir bila tak mendapat ikan untuk sekedar mengganjal perut mereka yang kecil?. Apalagi kau bukan? Aku tidak menyalahkanmu. Buktinya, burung dan laut saja tidak menangis, apalagi kau yang tidak pernah melihatnya secara langsung? Sekali lagi, aku tidak menyalahkanmu kawan, kenyataannya, aku juga tidak merasa apa-apa.
Saat tengkulak-tengkulak itu datang di pagi buta, mereka seolah melihat utusan tuhan yang berasal dari surga. Kalau bukan dari dompet tengkulak-tengkulak itu, dari siapa lagi mereka meraup sedikit uang hanya untuk menutup hutang-hutang mereka dan melunasi galian lubang hutang yang baru nantinya? Mereka sangat rentan, rapuh pada penipuan. Sistem dimana mereka hanya bergantung pada tengkulak-tengkulak itu membuat mereka percaya sepenuh hati dan mau menuruti apa saja yang dikatakan beberapa tengkulak nakal yang mengelabui mereka. Harga yang tidak menentu dan ditaksir hanya berdasar minat para tengkulak cukup membuat istri-istri mereka menitikkan air mata karena suami mereka tidak berdaya menanggapinya. Mereka hanya bisa pasrah mengadu ke dermaga sambil membaca puisi yang sering mereka lafal sambil menangis tersedu-sedu, melihat ke arah langit sambil mengembangkan tangan di tengah udara, berharap tuhan mendengarkan doa mereka. Berharap kehidupan mereka yang sial itu berubah.
Mereka memiliki agama yang mereka anut dengan kepercayaan masing-masing. Mereka tahu apa itu kebenaran dan kekeliruan. Tapi sulitnya keadaan membuat mereka lupa dan kadang menghujat tuhan sambil berceloteh dengan kerasnya di atas pasir. Mereka bukan makhluk yang tidak mengenal tata krama, kuyakinkan padamu mereka adalah makhluk yang beradab, namun air mata mereka yang menggenang sudah meluap dan menenggelamkan mereka dalam kesedihan yang tak berujung. Membuat mereka menjadi liar, bahkan buas untuk diri mereka sendiri.
“ayah, aku akan ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Suatu saat nanti, aku pasti kembali”
Banyak kalimat seperti itu keluar dari naluri anak-anak mereka yang terlalu paham dengan keadaan lingkungannya. Anak-anak itu berandaian akan memiliki kehidupan yang berbeda di luar sana. Bertahun-tahun anak-anak yang sudah tumbuh itu pergi, bertahun-tahun pula mereka menunggu kedatangan anak-anak itu kembali. Entah anak-anak yang membawa harapan dari ujung pantai itu berhasil dan bahagia, entah anak-anak itu mati ditimpa keganasan dunia nyata.
Kau penasaran dengan puisi itu? Ah, mana mungkin kau mau tahu, toh, itu hanya sebuah harapan dermaga dari seseorang yang hilang ditelan samudra. Tertulis kecil di batas karat dermaga yang hampir berciuman dengan curamnya laut yang beku. Kata yang tergores kecil di sudut dermaga itu ditulis dari orang yang sudah mati. Salah satu keluarga terdahulu dari mereka.
Terdapat keanehan padanya. Di antara sorak sorai teman-temannya yang tengah kebanjiran tangkapan ikan, dia hanya lenyap dalam sunyi sambil membawa dua ikat tali yang dilekatkan pada empat ekor ikan laut segar yang masih meronta-ronta mencari air. Saat sore dia suka ke dermaga, dimana banyak kapal bersinggahan kesana kemari untuk mengangkut barang-barang dalam kotak besi besar setiap hari. Yang ia lakukan di dermaga hanya memancing sambil bernyanyi sambil melihat sebuah cerobong besar memuntahkan asap hitam tebal ke langit luas dari sebuah pabrik besar di bawahnya. Sesekali ia menggores dengan batu karang tua di lantai ujung dermaga, menumpahkan kata-kata perandaian akan masa depan yang ia terka. Dia hanya memperhatikan itu dengan miris, sudah ratusan kali ia mencoba membujuk teman-teman dan keluarganya tentang melakukan sesuatu pada pabrik itu. Apa dayanya, kucuran uang atas perjanjian pembangunan pabrik sudah membutakan penduduk ujung pantai yang mulai menghitam itu. Mereka berpikir, apa ruginya mengizinkan membangun pabrik, sekaligus mendapat hasil dari tangkapan ikan setiap hari? Penghasilanku akan bertambah berkali lipat kan?
“ikan kini sudah pergi, mereka tidak pernah datang lagi”
“kau benar, bagaimana kita lanjutkan hidup?”
“kita tidak boleh menyerah, lebarkan jala kalian! Mari kita menangkap bersama-sama” lantang salah seorang dari mereka. Menyembuyikan kegelisahan yang sudah di depan mata.
Pabrik itu kini sudah mati. Meninggalkan dermaga yang berkarat dan laut yang kotor. Ikan sudah tidak lagi bertamasya di pantai mereka, memilih pergi daripada mengambang keracunan tak berguna. Yang tersisa hanya raut mereka. Raut keputusasaan. Sambil terus membaca puisi kecil itu, jala masih mereka lebarkan di antara limbah hitam pekat kental yang tergenang. Menunggu dengan kegelisahan. Setia dilema jengah kekhawatiran yang berbatas di cakrawala. Di tempat ini. Di antara laut yang sudah mati.
Cerpen Karangan: Auli Luky Z.


Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Hanya Kamu, Ingin Kamu dan Insyaallah Kamu

Assalamua’laikum hari ku.
Kamis siang ini disaat semua orang sibuk dengan aktifitasnya seperti halnya diriku yang kini sedang sibuk membantu pengurus dharma wanita persatuan di kantorku untuk acara hari sabtu, badan sedang tak enak, bibir pun terasa kelu, perut pun terasa kosong. Karena aku sedang berpuasa hari ini.
Jujur beberapa hari lalu masih dengan hati yang sama dia agus heri wibowo, lelaki yang masih selalu mengganggu aktifitasku dengan asyiknya bermain dalam imajinasi yang bernama cinta, semenjak aku memutuskan tuk berhenti memikirkannya, sejak itu pula parasnya selalu mindar-mandir di pikiranku, bahkan dalam aktifitas ku yang ramai pun. Ada dirinya.
Ya rabb. Tak ingin hati ini semakin berharap, tapi kenapa dia.
Astagfirullah al adzim
Baru kemarin aku belajar tuk menyukai orang lain sebut saja dia yusuf iskandar, lelaki yang baru baru ini dekat dengan ku. Dengan usia terpaut jauh 5 tahun lebih muda dibanding diriku, dari cerita-ceritanya, sekalipun dia berusaha menarik perhatianku, aku hanya mampu menganggapnya hanya sebagai teman, dia baik tapi terkadang masih mengeluarkan sifat yang kekanakannya dan itu mesti buat aku harus lebih bersabar. Kurang lebihnya satu bulan lamanya aku jalan dengan dia, tak ada rasa nyaman, senyaman layaknya wanita terhadap pria yang dia sayangi. Ku lakukan hanya untuk menyenangkan dirinya saja, jahatkah aku jika itu alasanku, sementara ketika bersama nya aku masih memikirkan mas heri.
Yang aku mau dia, yang aku inginkan dia, yang selalu mampu buat ku bersemangat di hari-hari itu ya hanya dia. Kenapa?. Aku sendiri tidak tau, sementara aku tidak mungkin mengambilnya dari tunangannya. Astagfirullah al adzim. Ampuni aku ya rabb.
Tetapi tiba-tiba siang ini di hari kamis, jam 13:00 tiba-tiba pak purwantoro berceloteh tentangnya. Dia bilang “heri putus dengan tunangannya”. “alasannya karena ceweknya suka jalan sama pria ini itu”.
Bagai tersambar petir siang bolong, suasana tiba-tiba berubah menjadi terang, silau dan semangat dalam diri semakin menggebu-gebu. “benarkah?. Ini bukan cuma bualan belaka?.”
Jantung berdetak lebih kencang dibanding biasanya, nafas terasa lebih berat dan sesak dibanding biasanya. Mata kembali melebar seperti ingin teriak “yessssss!!” sorak-sorai bergembira di hati dan hanya aku yang bersendung riuh di dalamnya. Hanya aku. Tetapi tiba-tiba fikiranku berubah. Pertanyaan yang muncul di benakku, “bagaimana keadaannya, bagaimana dengan dia. Mas heri ku, sedih kah.Terluka kah. Aku tak ingin dia terpuruk dengan selesainya jalinan pertunangan. Karena bagi lelaki jika sudah memutuskan tuk bertunangan berarti dia sangat memikirkan keseriusan, dan kini kata serius itu selesai dengan masuknya kata perselingkuhan.
Ya rabb.
Aku mesti bagaimana, apa rasa yang harus aku rasakan, jujur hati ini masi menginginkannya. Ampuni aku jika itu dosa ya rabb, hamba berusaha tuk mampu mengelola rasa itu. Benarkah berita ini, tapi aku pun tak sanggup jika harus bertanya.
Untuk mu mas heri ku. Andai saja kau tau tak ingin ku punya rasa ini terhadapmu. Berusaha sekuat apapun aku malah rasa ini semakin menjadi, tapi insyaallah aku mampu mengelolanya hingga kau tak merasa tak nyaman terhadapku. Hanya kamu, ingin kamu, dan insyaallah kamu.

Cerpen Karangan: Auli Luky Z.


Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Rabu, 07 Januari 2015

Bunga dan Derita

Bunga dan Derita


Aku masih terpaku pada deretan bunga sepatu di hadapanku. Bunga yang telah terkatup layu seiring dengan telah lamanya aku menanti seorang pria yang mengajakku kencan di taman ini. Tiga puluh menit dari jadwal janjian, terasa tak jadi masalah saat dari kejauhan terdengar seseorang memanggilku. Namun saat kupalingkan wajahku, aku kecewa bukan main ternyata hanya kegaduhan orang-orang disebrang jalan.

Kembali aku fokuskan perhatianku pada rangkaian bunga dihadapanku. Sesekali kulirik wajahku pada kaca mungil yang sengaja kubawa. Aku harus memastikan saat Dannis datang aku bisa terlihat lebih cantik. Soalnya dia adalah laki-laki pertama yang aku persilahkan untuk mengajak diriku berkencan, ya walau hanya di taman kota saja. Dannis adalah teman sekelasku yang dua tahun terakhir ini aku idam-idamkan tembakannya. Padahal sebelumnya waktu menginjak kelas satu SMA aku sangat tidak akur dengan cowok tengil itu. 

Tapi karena suatu moment saat aku cidera diperlombaan basket antar sekolah, dia dengan gagahnya membopong tubuhku. Dari kejadian itulah aku mulai mengalihkan fikiran jelekku kepadanya. Dari yang tadinya evil yang paling dihindari, kini jadi sosok pangeran penolong yang dinantikan kehadirannya.

Jarum jam telah menunjuk angka sembilan.

“Oh Dannis, setega itukah kamu? udah dua jam Nis hikss…..,” aku tejatuh dalam tangis. Anganku telah hancur lebur karena sebuah janji yang tidak ditepati.

Padahal masih hangat di memoriku, tadi siang saat jam istirahat aku mendapati sepucuk surat beramplop merah jambu terselip di mejaku. 

Hi Asmi…..

Malam ini aku haraf kita bisa ketemu….
Ada beberapa hal yang perlu aku sampein ke loe Mi….
Gw.. Eh aku ssssstunggu kamu jam tujuh di taman kota yaa….

-Dannis-

Ku ulang kembali hingga tiga kali, aku baca dengan super apik, terutama dibagian pengirim.

“Oh Tuhan, Dannis?” suasana bahagia bercampur haru menyelimuti hatiku.

Nuansa kelas menjadi indah dipenuhi bunga warna-warni. Hingga seseorang menepuk pundakku. Dan suasana kembali berubah menjadi kelas dua belas saat jam istirahat. Sepi, dan terkapar tak berdaya buku-buku yang dilempar majikannya.

“Asmi….”

“Ehhh….. Via, kenapa Vi?
“Loe yang kenapa? Dari tadi Gw intip dari jendela Loe senyum-senyum sendiri….”

Aku disuguhi pertanyaan yang membuat aku kikuk sendiri. Aku tidak bisa membayangkan seberapa merah wajahkun saat itu. Yang pasti saat itu aku benar-benar tertunduk.

“Eng….ngak ko Vi, aku gak kenapa-napa”, sahutku gugup.

“Ya udah Gw mau ke kantin aja, mau ikut gak Mi?”

“Oh gak, maksih aku gak laper.”

Aku segera membalikkan tubuhku, memburu kursi dipojokan kelas. Namun baru beberapa langkah, hartaku yang paling berharga disabet oleh orang dibelakangku.

“ehhhh..”

“Haaa… ternyata ini toh yang bikin Loe jadi gak laper? Hahhahah…”

“Via kembaliin!” ku rebut kembali kertas berharga itu.

“Yah Loe ini Mi, sekalipun Gw gak baca tapi Gw udah tahu isinya apaan.”

“So tahu kamu!”

“Ya Gw tahu, itu surat dari Dannis kan? Dia ngajak kencan? Soalnya nanti malam dia mau……” omongan Via tertahan dengan kedatangan seseorang yang dari tadi dibicarakan.

“Dannis…..” sahut ku dan Via kaget.

“Aduh hampir saja” bisik Via pelan.

“Kenpa Vi?” tanyaku penasaran.

“Ohh enggak! Gw kayaknya ngedadak gak mau kekantin deh!”

“Lantas loe mau kemana Vi?” tanyaku semakin heran.

“Ke WC ya Vi? ya udah sana!” tangkas Dannis plus kedipan kecil dimata kirinya.

“Oh ya bener, hhehhe” 

Via telah berlalu, sekarang tinggal aku dan Dannis.

“Gimana?” Tanya Dannis.

“Gimana apanya Nis?”

“Tuu…” tunjuknya ke arah kertas dijemariku.

“Oh oke deh aku mau”

“Ya udah Gw cabut dulu ya!” sahutnya salah tingkah.

“Oh ya…” aku tak kalah salting.

Perlahan Dannis meninggalkan kelas, namun sebelum dia benar-benar pergi dia memanggilku.

“Hmmm…. Vi jangan ampe telat ya!”

“Ok sipp!”

“Awas loh”

“Iya bawel”
***

Dengan berurai air mata dan kecewa, aku putuskan untuk pulang kerumah. Sesampainya dirumah aku semakin kacau dengan disuguhi omelan Bunda, yang malah bikin hatiku semakin hancur saja. Beribu pertanyaan Bunda menghujani aku.

“Dari tadi kamu kemana saja?”

Aku hanya terdiam kaku tanpa menjawab pertanyaan Bunda.

“Jawab!” kali ini nada suara Bunda meninggi,

”Kamu tahu? anak perawan gak baik keluyuran jam segini!” sambung Bunda.

Aku masih tak memberikan respon apa-apa.

Plakkk 

Sebuah tamparan menggores pipiku, “Oh Tuhan sakit sekali” bisikku dalam hati.

“Bunda jahat!” aku segera masuk kekamar, kututup rapat pintu kamarku.

Malam ini sungguh menjadi malam yang paling berat untukku. Ini adalah kali pertama Bunda menampar dan memarahiku. Belum lagi dengan perasaanku yang masih kecewa karena kencan pertamaku gagal, karena Dannis tak hadir diundangannya sendiri.

“Oh Tuhan, semalang itukah nasib ku?”

Aku kembali terhanyut dalam tangis, hingga akhirnya aku tertidur pulas.
***

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Fikirku sudah matang, sesampainya disekolah akan ku beri tamparan mereka berdua.

“Via sama Dannis itu dari mulai sekarang bukan temanku lagi, teman macam apa mereka? Berani ngerjain aku ampe separah itu!” gerutuku kesal

Kakiku masih mengayuh, menyusuri pinggiran jalan kota yang ramai. Namun saat aku melewati Taman Kota kakiku serasa tertahan, aku mengingat peristiwa tadi malam.

“Cuihh….. aku bakalan balas semua rasa sakitku tadi malam!” aku kembali bergerutu kesal.

Aku samakin kesal saat aku menyadari banyak kelopak bunga mawar berantakan diruas jalan.

“Apa-apaan nih, mereka kira aku lagi jatuh cinta apa?” dunia pun seakan menertawakan rasa sakitku dengan menabur bunga di jalanan yang aku lewati ini.

Aku berlari kencang meninggalkan keanehan yang membuat aku semakin gila. Tak membutuhkan waktu yang lama aku telah sampai disekolah.

Hal pertama yang aku lakukan adalah mencari dua orang biadab itu. Tiga puluh menit telah berlalu, aku sudah mengubek-ubek isi sekolah tapi hasilnya nihil, keduanya hilang bak ditelan bayang. Hingga bell masuk pun tiba, tapi keduanya tak kunjung masuk kelas. Sampai pelajaran dimulai, baru sepuluh menit seseorang mengetuk pintu kelas. Aku terperajat kaget “Aku haraf itu Dannis atau Via”. Tapi ternyata bukan, dia adalah Bu Jen, wali kelas kami.

“Pagi anak-anak”

“Pagi Bu……” jawab murid hamper serempak.

“Pagi ini ibu dengan berat hati akan mengabarkan kabar duka kepada kalian”. Semua anak kelas dua belas terlihat tenang mendengar penjelasan Bu Jen.

“Salah satu teman kita, Dannis. Semalam mendapat musibah, dia mengalami kecelakaan yang cukup parah, hingga nyawanya tidak dapat tertolong”. Suara Bu Jen semakin melemah.

Suasana berubah menjadi pilu, tangisan mulai tumpah ruah dimana-mana. Aku sendiri terpasung dalam diam, jantungku berdegup dalam kisah sedih yang tak tertahankan.

“Dannissssss!!!!!” 

Aku berteriak sekencang-kencangnya, aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku telah bertepi di ruas jalan di dekat Taman, dimana aspal dipenuhi kelopak bunga yang telah layu diinjak pengguna jalan. 

“Oh Tuhan ternyata kelopak bunga ini dipenuhi cipratan darah”

Diri ini semakin berguncang hebat, saat aku temui secarik kertas.


Dear……
Asmi (Calon Kekasihku)
From : Dannis

Kertas kotor bernoda darah itu aku peluk sekuat-kuatnya.

“Dannis…..Hiks” kepala ini semakin tak tertahan, dan akhirnya aku terkapar dalam ketidaksadaran.
***

Mata ini pelan-pelan mulai menatap jelas orang-orang disekelilingku. Ku lihat dengan pasti wajah Bunda dan Via penuh dengan kehawatir dan penasaran.

“Asmi kayaknya udah sadar Tant”

“Iya”

“Aku kenapa Bund?” tanyaku dengan nada berat.

Bunda dan Via menatapku pilu. Aku mulai mengingat deretan kejadian sebelum aku terkapar dalam tempat tidur ini, 

“Dann….” Ucapanku terhenti karena sentuhan telunjuk Bunda di bibirku. Bunda menganggukkan kepalanya petanda mengiyakan setiap halus ucapanku, 

“Iya, kamu yang sabar ya nak”

Lagi-lagi aku terpaku dalam diam, hanya linangan air mata yang mengalir deras dipipiku. 
Via memeluku erat,

“Maafin Gw ya Mi, Hiks… Gw tahu, Gw gx mampu jaga Dannis buat Loe.”

“Hiks…… Dannis” 
***

Satu minggu sudah aku mengurung diri dikamar, tanpa bicara dan tak ingin brtemu siapa-siapa.

Tukk tukkkk…..

Seseorang mengetuk pintu kamarku

“Asmi , nih ada Nak Via pengen ketemu kamu.”

“Pergi Kamu!!” bentakku kasar, dan lemparan bantal tepat mendarat diwajah Via saat Bunda membuka pintu kamarku.

“Mi ini Gw, Via”

“Pergi kamu!!! Kamu yang udah bikin Dannis meninggal!!!”

“Ya Gw Mi, Gw yang udah nagsih buku Diary loe itu ke Dannis, yang membuat Dannis sadar tentang semua perasaan Loe ke dia. Tapi asal Loe tahu Diary Loe itu juga yang bikin Dannis sadar kalo cintanya gak bertepuk sebelah tangan!”

“Jadi Dannis……..” ucapanku terhenti, perlahan aku mendekati wajah Via yang basah karena air mata, “Bohong!” bentakku bringas.

“Gak Mi!”

“Alah itu akal-akalan kamu aja, biar aku enggak ngerasa terhianati” sahutku sinis.

“Gak Mi, Loe gak sadar waktu malam itu Dannis terlambat tiga puluh menit, dia terus manggin-manggil Loe, tapi Loe gak denger,” ucapannya terhenti, sesaat Via mengambil nafas panjang “Loe malah sibuk sama riasan Loe itu, sampai akhirnya dia tertabrak karena lari kearah Loe!”

“Bohong!”

“Tidak! Gw liat dngan mata kepala Gw sendiri, Gw yang anter Dannis ke Taman karena dia kelamaan milih bunga di toko bunga nyokap Gw.”

“Dannis….Jadi”

“Jadi gak ada yang terhianati disini, Dannis bener-bener cinta sama Loe Mi! Pliese Loe jalani hidup Loe lagi, buat Dannis Mi!”

“Hiks…….” 

Aku menangis sejadi-jadinya, tapi itu akan menjadi tangisan terakhirku. Karena aku telah berjanji untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik mungkin. Karena aku mencintai Dannis, laki-laki yang mencintai aku.

Cerpen Karangan: Auli Luky Z.


Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi