Batman Begins - Help Select expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 17 Desember 2014

Pergi dan Tak Kembali


Pergi dan Tak Kembali



Shiba menyandarkan tubuhnya di bangku panjang di sebuah taman. Ia memandang amplop berwarna putih berisi kertas hasil pemeriksaannya di rumah sakit barusan. Perlahan ia merobek-robek amplop itu tanpa membukanya.
“Hidupku tak lebih hancur dari benda yang kurobek-robek ini.” Ia berdiri lalu menginjak-nginjaknya. Sekejap sobekan amplop itu telah berbaur dengan tanah becek di taman itu.
“Setidaknya dengan begini aku tak membebani siapa pun.”
“Aku harus melanjutkan hidupku seolah-olah tak ada hal buruk menimpaku!”
Shiba beranjak meninggalkan taman tempat bermainnya semasa kecil. Roda waktu serasa melaju sangat kencang, setidaknya setelah mengetahui hasil check-up itu.

Ia mengetuk sebuah pintu rumah bercat coklat tua. 1, 2, 3 kali, keluarlah tuan rumahnya.
“Aku kira kau takkan datang, Kak Shi..” katanya. Lalu ia menarik tangan Shiba masuk ke dalam rumah yang telah dipenuhi para undangan.
“Kemarin bibi bilang kakak sedikit deman, jadi tadi aku tak menghubungi kakak tadi, aku tak mau menganggu istirahat kakak.” Kata gadis itu. Namanya Cilla, berselisih 3 tahun dengan Shiba.
“Oh, ya..” Shiba memakaikan sebuah mahkota yang dibuatnya dari akar-akar pohon dan dihiasi bunga melati di kepala Cilla. Shiba membuatnya jauh-jauh hari sebelum ulang tahun ke-17 gadis itu.
“Bagaimana, kau suka tuan putri?”
Kedua pipi Cilla seketika memerah. Kedua bibirnya seolah ingin melontarkan banyak hal, namun tertahan. Ia memalingkan muka dari Shiba yang masih bertahan dengan senyum di hadapannya.
“Cilla.. Happy Sweet Seventeen Birthday!!” kata Shiba seraya memeluk gadis itu.
“Bisakah kau hidup selamanya dihatiku? Jika suatu saat aku meninggalkanmu?”
“Maksud kakak?”
“Cilla tau, kan? Di dunia ini tak ada yang abadi. Semua pasti kembali kepada Sang Pencipta..” perkataan Shiba seolah menghentikan detak jantung gadis yang sedang berada di pelukannya itu.
“Engg..gg.. sudah lupakan saja ucapanku tadi. Harusnya kita bersenang-senang dengan mereka, bukan?” Shiba menunjuk undangan yang tengah mengerumuni sebuah meja dengan kue tart berhias 17 lilin di atasnya. Meski masih tak menangkap maksud perkataan Shiba sebelumnya, Cilla mengikuti gerak langkah Shiba menghampiri teman-temannya di sana. Lanjutkanlah seolah tak ada hal buruk yang sedang menimpa, bukankah sebaiknya begitu?

Cilla berada tepat di depan 17 cahaya lilin dengan Shiba di sampingnya.
“Don’t forget to make a best wish, Princess..” bisik Shiba pada gadis bak seorang putri di sampingnya itu. Cilla menghela nafas, memejamkan matanya..
Untuk yang terjadi sedetik yang lalu, sedetik dikemudian waktu, aku harap, Tuhan memberkati kami kekuatan tanpa batas untuk melanjutkan sebentang kehidupan yang terhampar di hadapan kami, seolah tak ada satu hal buruk pun yang menimpa. Batin Cilla mengucapkan. Lalu satu per satu cahaya ke 17 lilin itu padam ditiupnya. Semua undangan kemudian menyanyikan lagu potong kue untuknya. Tak terasa sepotong demi sepotong kue telah dibagikan untuk para undangan.
Laju roda waktu untuk melewati senyuman dan mendatangkan air mata memang secepat kilat. Setidaknya untuk mereka yang sedang tertimpa hal buruk, Shiba. Pusing, pening itu kini tengah melayang-layang di ubun-ubunnya. Memaksanya meninggalkan alam kebahagiaan sejenak lebih awal. Shiba mendekati Cilla yang tengah asyik bercanda tawa dengan teman-teman sekolahnya.
“Bolehkah aku bersama Tuan Putri untuk sekejap?” katanya di hadapan teman-teman Cilla yang rata-rata adalah perempuan. Mereka senyum-senyum dan mengangguk-angguk, lalu salah seorang teman Cilla meletakkan tangan Cilla di atas tangan Shiba.
“Nikmatilah waktu kalian, sobat!!” katanya. Shiba membawa Cilla menuju taman belakang yang berhubungan langsung dengan sebuah danau. Mereka duduk di atas perahu yang terikat di pohon di pinggir danau.
“Masih tak menangkap maksud perkataanku beberapa waktu yang lalu?” tanya Shiba pada Cilla yang baru saja menyandarkan kepalanya di bahu Shiba.
“Ini sebuah teka-teki untukku, Kak. Bisakah kakak tak berlama-lama membuat hatiku bertanya-tanya?” kata Cilla sambil merapikan rambut ikal coklatnya yang ditiup angin.
Shiba memberikan selembar kertas yang terlipat kepada Cilla. Gadis itu menerimanya tanpa bertanya lalu membukanya tanpa ragu. Ia baca satu persatu kalimat yang tercantum di kertas itu.
“Apakah ini hadiah ulang tahun untukku, Kak?” tanya Cilla lirih.

Setetes demi setetes air matanya jatuh membasahi kertas yang dipegangnya itu. Shiba menyeka air mata gadis itu dengan ibu jarinya. Cilla menahan paksa agar air itu berhenti mengalir di pipinya. Memaksa hatinya untuk menerima sebuah kenyataan pahit di hari bahagianya itu.
“Aku sengaja menyembunyikan ini dari semua orang karena aku tak mau mereka merasa terbebani, itu saja, tak lebih.” Suara Shiba tak sehalus tadi kepada Cilla. Ia mulai acuh dengan gadis itu.
“Mengapa kakak tau berusaha mengobatinya?”
“Mengobatinya? Percuma saja!! Hanya buang-buang uang, tenaga, dan waktu.”
“Kakak berubah! Bukan Kak Shi seperti yang aku kenal dulu!”
“Sudahlah.. umurku tak lama lagi. Ini adalah terakhir kalinya kita bertemu dan bersama. Apa pesan terakhirmu untukku, Cilla?”
Cilla melepas mahkota yang di kepalanya lalu meletakkanya di samping Shiba. Shiba meraihnya lalu membuangnya ke tengah danau. Cilla tak dapat menahan air matanya lagi. Ia bangun dan berlari meninggalkan Shiba sambil menangis. Shiba tetap diam, tak beranjak untuk mengejar gadis yang dicintainya itu. Ia mengambil kayuh yang tertancap di samping perahu lalu mengayuh perahu menuju rumahnya di seberang.

Sesampainya di sana, hanya lampu di gerbangnya saja yang menyala. Shiba mengetuk pintu namun ternyata pintu tak dikunci. Ia langsung masuk tanpa menyapa. Ia menaiki tangga menuju kamarnya, berjalan sedikit gontai.
“Hosh..!! hosh!! Jangan sekarang..”
“Biarkan aku berbaring dulu…”
Ia dobrak pintu kamarnya. Ia masih ingat, sebelum pergi ke rumah sakit, ia kunci pintu kamarnya, lalu ia meletakkan kunci kamarnya itu di dapur. Pintu kamar terbuka dan ia segera mendekati tempat tidurnya.
“Baiklah.. di tempat yang teramat sangat berantakan ini, kusampaikan pada malaikat yang bertugas mencabut nyawaku..” nafasnya mulai tersendat-sendat.
“Ambillah apa yang kau perlukan, lalu berilah apa yang kuinginkan..” Shiba menarik sisa nafasnya dalam-dalam..
“Sekian dan terima kasih.” Laju roda waktu seketika berhenti. Ia pergi dan tak akan kembali.

Shiba terbang menuju kumpulan awan putih di langit paling atas. Sesampainya di sana ia melihat sebuah tempat seperti sebuah desa. Ia mengintip dari celah di pintu gerbang. Bangunan di kanannya berwarna putih dan di kirinya berwarna hitam. Penghuni bangunan putih itu tampak sangat bahagia dan penghuni bangunan hitam sebaliknya. Melarat, tersiksa, sungguh mengerikan! Ketika Shiba hendak memasuki gerbang, seseorang yang menghuni sebuah bangunan kecil mirip post satpam, mengintrogasinya.
“Siapa namamu, anak muda?” tanyanya.
“Shiba, Pak.”
“Kamu meninggal karena apa?”
“Sakit, Pak.”
“Sakit apa?”
“Kanker hati, Pak.”
“Oh, ya?”
“Ya, Pak.?”
“Baiklah, silahkan masuk.” Lalu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Namun yang ada di hadapannya hanya hamparan bangunan hitam-hitam. Jerit, tangis terdengar sangat jelas. Hawa sejuk tiba-tiba mendadak panas menyengat. Membakar kulit Shiba.
“Aku tidak masuk surga, ya?” gumamnya.
“Tidak. Karena kau begitu menyianyiakan segala yang diberikanNya padamu semasa hidup. Kau sama sekali tak berjuang untuk mempertahankan satu hal pun. Sekarang nikmatilah tempat tinggal barumu!” sebuah suara entah darimana sumbernya menjawab segala pertanyaan hati Shiba. Dengan tertatih-tatih Shiba menapaki jalan menuju ujung Neraka.
“Lanjutkan! Seolah-olah tak ada satu hal buruk pun yang sedang menimpa.” Gumamnya dengan lirih.

Cerpen Karangan: Auli Luky Z.


Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi
Diposkan oleh auli luky di 23.54 Tidak ada komentar:

Rahasia Ku dan Langit Mendung




Duduk terdiam di lantai teras rumah ku sembari memandang langit senja yang ketika itu ditutupi oleh awan hitam. Bagi ku senja telah kehilangan nyawanya ketika Mendung datang menyelimuti langit di sore hari. Mata ku tertuju pada tetesan air yang satu demi satu turun membasahi bumi, sesekali tetesan itu memercikan sebagian airnya ke wajah ku, seketika aku tersadar hujan telah turun menemani langit mendung. Aku masih tetap saja duduk menatap langit yang tampak buram, dan tak jarang aku mengulurkan tangan menampung tetesan air hujan sembari memainkannya.


Di keramaian rintik hujan yang turun mengingatkan ku akan rahasia-rahasia di balik luka yang ku sembunyikan. Sebenarnya aku tak mau mengingat luka itu, Namun setiap kali Mendung hadir diiringi turunnya hujan aku tak pernah berhenti bertanya.


“Apakah kau tau jika aku terluka?”


“Atau… Apakah kau telah benar-benar lupa akan diri ku?”


Itu hanya sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak ku, dari sekian banyak pertanyaan ku tak ada satu pun pertanyaan yang aku temukan jawabannya.


Aku benci mendung karena mendung mendatangkan hujan, keadaan yang demikian membuat ku merasa sepi seorang diri, dimana segala aktifitas ku di luar terhenti karena hujan dan semua itu berawal karena mendung. Akhirnya aku hanya memikirkan masalah ku sendiri, kesibukan yang lain terabaikan oleh ku. Masalah luka ini selalu menjuarai dari sekian banyak masalah yang ada dalam diri ku dan tak heran jika aku larut dalam luka itu ketika aku merasa seorang diri.


Hati ku pernah terluka tepatnya 2 tahun lalu, bukan untuk yang pertama kalinya melainkan itu yang kesekian kalinya, tapi luka itu merupakan kali pertamanya aku merasakan sakit yang teramat perih dari luka ku yang sebelumnya, waktu 2 tahun tak mampu membuat ku lupa akan kenangan bersamanya dan rasa sakit yang ia berikan pada ku, aku tak berharap lebih untuk dapat melupakan semua kenangan dan rasa sakit itu sepenuhnya dalam waktu sekejap, setidaknya untuk beberapa waktu saja, sampai rasa sakit hati ku itu hilang. 


Namun, rasanya semua itu mustahil terjadi, buktinya 2 tahun lebih waktu telah berlalu akan tetapi semua tetap sama, semua hal tentang rasa sakit itu masih saja sesukanya menghantui fikiran ku. Aku bingung harus berbuat apa untuk dapat mengatasi rasa sakit itu. Segala usaha telah aku lakukan, Namun asa ku tetap tak mampu, yang aku dapat hasilnya tetap saja nihil.


Hemmm… Tak ada yang dapat aku salahkan dalam hal ini, kalaupun ada itu hanyalah aku seorang. Akulah yang salah mengapa terlalu menaruh harap lebih terhadap rasa ku dan rasanya yang tak pernah satu rasa. Mungkin itu lah sebabnya Tuhan menciptakan sebuah perpisahan, karena perpisahan terjadi sudah pasti ada pertemuan, dan itu salah satu cara Tuhan mengajarkan insan-Nya menjadi lebih baik lagi. 


Dan di balik luka ini pasti ada hikmah yang diajarkan Tuhan kepada diri ku. Itulah sebabnya mengapa aku sangat membenci mendung, karena ketika itu aku selalu teringat akan masalah luka yang amat sangat sulit untuk disembuhkan.

Tubuh ku gemetar seketika aku tersadar aku telah kedinginan, entah telah berapa menit aku habiskan selama duduk di lantai teras rumah ku sore itu. Tuhan telah menyadarkan ku betapa egoisnya aku yang terlalu larut akan masa lalu, bukankah masih banyak hal yang harusnya aku fikirkan, yang lebih penting dari pada hal itu, alangkah meruginya diriku telah menghabiskan waktu untuk memikirkan orang yang belum tentu memikirkan ku. Bodoh… aku terlalu naïf untuk mengakui kebodohan ku, lagi-lagi Tuhan menyadarkan aku bahwa mendung dan hujan itu tak layak untuk dibenci, melainkan untuk disyukuri sebagai anugerah dari-Nya. 

Sejak saat itu dengan penuh kesadaran dan keyakinan aku bertekat untuk tidak membenci mendung dan tidak mengungkit luka itu lagi, biarlah luka itu menjadi rahasia yang akan berubah menjadi cerita di kemudian hari.


Semua luka ini memang sulit ku terima tapi kini hanya ada satu permasalahan saja, Bukan aku tak sanggup namun hanya aku belum sanggup menerimanya. Tentang rasa sakit ini biarlah waktu yang menyembuhannya, bukan karena bantuannya, mereka, atau siapapun. Karena waktulah yang akan lebih baik menyembuhkan ku. Aku seperti mendapatkan hidayah. Lega rasanya, tak ada rasa benci dan rasa sakit hati, Semua perasaan itu hilang seketika. Kemudian aku beranjak dari tempat aku duduk dan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah.


THE END


Cerpen Karangan: Auli Luky Z.


Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Cinta Yang Tak Terucap


Cinta Yang Tak Terucap


Perkenal kan nama ku arifin, aku seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta di kota bandung. Aku adalah lelaki yang jauh dari kata sempurna, waktu masih sma aku tak pernah mengenal apa itu cinta, dikarenakan sekolah aku yang homogen alias isinya cuma cowok semua ada cewek paling juga guru itu juga udah pada tua. Tetapi semuanya berubah ketika aku memasuki bangku kuliah.

Hari pertama kuliah diisi dengan acara yang namanya ospek menyebalkan memang, tapi ya sudah lah aku jalani saja. Hari pertama ospek memang sedikit canggung karena dengan lingkungan baru, orang baru dan gak ada yang kenal satu orang pun. Tetapi ada seseorang yang mampu mengalihkan dunia ku, yang dulunya gelap menjadi terang, yang dulunya tak mengenal cinta sekarang jadi merasakan cinta itu seperti apa. Dia adalah seorang wanita muslimah yang baik cantik dan menutup semua auratnya rapat-rapat, nama nya ridla fauziah ismaha namun teman-temannya biasa panggil dia isma.

Singkat cerita aku kenal dengan nya. Ternya dia juga anak rantau sama seperti aku dan tempat tinggal nya tidak terlalu jauh dengan ku jarak nya sekitar 5 – 6 km dari rumah ku.

Jujur aku tidak berani menyampaikan rasa suka atau tertarik sama dia, namun aku ada cara yang mungkin sedikit aneh untuk bisa dekat dengan dia, yaitu dengan cara berpura-pura mendekati sahabat nya, sebut saja nama sahabat nya bunga, orangnya supel dan lumayan pandai.

Aku selalu curhat sama isma tentang bunga yang sebenernya cuma modus belaka hehe. Ternyata dia selalu kasih saran positif pada ku, singkat cerita bunga (sahabat isma) dia jadian dengan cowok lain.

Aku inget pas terakhir kalinya dia ngasih saran pada ku tentang bunga, “udah lah fin lupain aja dia, mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu” begitu ujar dia di telpon.
Iyalah dia gak mungkin jadi yang terbaik buat aku, karena aku berharap yang terbaik buat aku itu kamu isma ujarku dalam hati.

Semenjak saat itu aku makin deket sama dia. Sering pulang bareng, kalau main sama temen-temen satu kelas pasti dia gak mau sama cowok lain maunya sama aku doang padahal banyak yang nawarin bareng tapi dia selalu jawab “engga deh makasih aku sama arifin aja”. Bahkan ada temen aku yang nawarin ngaterin dia pulang ke tempat kos dia tolak dan malah dianterin sama aku di depan orang yang nawarin tadi. Wajar banyak temen aku yang cemburu karena dia lebih milih aku hehehe

Namun ketika aku ingin mengungkapkan perasaan ini selalu ada keraguan di hati ini. Apakah aku bakalan di terima?. Aku takut ketika aku mengungkap kan perasaan ini dia malah menjauh dari ku, oleh karena alasan itu lah aku tak pernah mengungkapkan rasa sayang dan cinta ku ini pada nya.

Cerpen Karangan: Auli Luky Z.

Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Menghilang


Mungkin bukan saatnya membicarakan cinta dalam benakku saat ini. Karena ku terperangkap dalam banyak tanggung jawab dan segudang target yang harus dicapai semester ini. Tapi, dia membuatku ternganga saat kejadian di hari itu. Iya Nadin, seorang teman yang tiba-tiba menghilang dari hidupku. Menjauh, menjauh dan terus menjauh. Menghilang tanpa alasan yang jelas.
Nadin, namanya selalu ada dalam pikiranku saat itu. Mungkin karena kagum atau suka atau mungkinkah cinta. Senyumnya yang unik, selalu tergambar wajahnya yang polos dan kata-katanya yang lugas dan tegas. Memberikan semangat pada diriku. Memberikan kekuatan yang dahsyat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan terus lebih baik sepanjang hari. Menjemput segudang prestasi di kampus. Melawan keterbatasan yang ada pada diriku. Agak sedikit lebay kurasa, tapi memang seperti itu. Dampak singkat yang ditimbulkan oleh pancaran hatinya yang tulus. Dia yang banyak berprestasi membuatku terus termotivasi setiap hari dalam hidupku.
Malam itu, ku kirimkan pesan kepadanya dari handphone ku. Mengirimkan kata-kata motivasi yang sering kukirimkan kepada teman-teman yang dekat denganku. Mengharap balasan yang lugas seperti biasa. Mengharap sebaris kalimat balasan yang akan membuatku tersenyum.
Satu menit, berlalu, satu jam pun mendekat, dan akhirnya malam yang hampa tanpa balasan sepatah kata pun yang masuk ke handphone ku. Kecewa rasanya tak seperti malam-malam biasanya. Saat ia membalas pesanku walaupun dua atau tiga kali balasan. Akhirnya kuterlelap dalam gelapnya malam di kamarku yang sepi.
Pagi harinya kujalani hidupku seperti biasa. Kuliah dengan semangat. Memperhatikan dosen dan tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepadaku. Mencoba mencari perhatian dari dosen, sehingga nilaiku akan terjaga di akhir semester. Tak dipungkiri kadang nilai juga menjadi prioritas. Di samping ilmu yang tentunya bermanfaat.
Kuliah pun usai jam 10.00 WITA, aku keluar melintasi ruang kuliah dan mencoba menengok ke ruangan sebelah yang kebetulan ruang kuliah Nadin. Tengok di tengok, tak ada wajah yang kucari. Bangku yang biasanya ia duduki kosong dan tak ada tanda-tanda keberadaannya. Dia tidak masuk kuliah hari itu. Dalam benakku berkata “apakah yang terjadi padanya. Mungkinkah ia sakit..?”. untuk menjawab rasa penasaranku ku tunggu kelas tersebut usai sambil bermain laptop di samping ruang kuliahnya. Dan akhirnya teman-temannya pun keluar dan kutanya “kenapa Nadin dak masuk kuliah”. Tak ada satu pun temannya yang tau, kenapa ia tidak masuk kuliah hari itu. Maklum ia adalah orang yang sangat tertutup dan orang yang paling fokus yang pernah ku kenal.
Hari berikutnya kucoba lagi menghubunginya. Tapi tidak ada kabar dan jawaban. Demikian seterusnya hari demi hari kulewati dalam penasaranku. Dan tak ada yang tau kabarnya sampai sekarang, ia menghilang tanpa kabar dan alasan.
Cerpen Karangan: Auli Luky Z. 

Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Harus Kuat Sebagai Ulat


Seperti biasa, pada pagi buta Andi harus bersiap menuju sekolah dengan mengendarai sepeda butut kepunyaan ayahnya. Andi terlahir dari keluarga yang kurang berada, dimana dia harus mencari uang sendiri untuk keperluan sekolahnya. Seusai sholat subuh, Andi selalu memetik kangkung di rawa belakang rumahnya. Kegiatan ini rutin dilakukan demi memenuhi keperluan sehari-hari. Dengan singkong rebus sebagai sarapan pagi ditambah air tajin bekas mananak nasi, tampaknya perut Andi cukup bergembira karena telah mendapatkan asupan gizi yang akan bermetabolisme menjadi energi dalam menyongsong aktivitas hari ini.
“Emak, Andi sudah siap nih mau pergi ke sekolah!” kata Andi kepada emaknya.
“Oh ya nak, jangan lupa 10 ikat kangkung tadi dibawa yah! Titip ke mbok Leni di pasar pagi lematang sana,” sahut emak Andi.
“Iya emak, sudah andi letakan di keranjang sepeda,” balas Andi.
Emak pun segera menuju depan rumah, Andi langsung pamitan sambil mencium tangan emaknya. Kegiatan ini selalu dilakukan Andi tiap mau pergi sekolah, dia yakin kalau mencium tangan emaknya, maka semesta alam akan memperlancar semua kegiatannya. Andi sangat mencintai emak dan akan selalu menyayangi emak sampai kapanpun dan dimanapun.
“Hati-hati yah Andi di jalan, emak selalu mendoakanmu,” pesan emak kepada Andi.
“Iya mak,” kata Andi. “Dan jangan lupa baca doa keluar rumah!”, pesan emak lagi.
Kangkung telah menari-menari di keranjang sepeda karena tiupan sunyi angin pagi. Sweater coklat lusuh kini membalut tubuh kurus Andi, dengan niat dan tekad dia berjuang mati-matian agar sampai tempat peraduan sumber ilmunya. “Bismillahi tawakaltu allohlohilahawlawalakuata illabillah,” bisik Andi mengawali perjalanannya. Andi yang baru menginjak umur 12 tahun yang kini duduk di bangku kelas 1 Madrahasah Tsanawiyah itu mempunyai keinginan yang harus segera terpenuhi. Keinginannya itu selalu ia ucapkan di sela-sela zikir dan doanya. Mungkin bagi sebagian besar orang sangat mudah untuk mewujudkan keinginannya. Tapi apa daya, Andi yang terlahir dari keluarga dibawah garis kesederhanaan itu, hanya doa dan usaha kecil-kecilan yang dilakukannya untuk mewujudkan keinginan tersebut. “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,” Andi sangat percaya dengan kalimat Allah tersebut.
Andi mengayuh terus menuju pasar pagi Lematang. Lelah kaki tak menjadi halangan untuk terus menggapai impian, zikir-zikir Allah selalu mengiringi kayuhan sepedanya. Dia percaya, peluh keringat yang keluar dari pori-porinya, akan dibayar mahal oleh Allah sebagai reward perjuangannya selama ini. Tulisan Selamat Datang Pasar Pagi Lematang telah menghipnotis matanya, menggerakan saraf motorik menuju otak mengirimkan berita melalui influs-influs agar kaki pendeknya dengan cepat mengayuh pedal sepeda agar sampai ke peraduan. “Assalamualaikum mbok Leni. Ini ada titipan kangkung 10 ikat dari emak. Tolong dijual yah mbok! Andi mau nimbah ilmu dulu di MTs Muhammadiyah Lematang”, kata Andi sambil meletakan kangkung ke terpal jualan mbok Leni. “Ya sudah sini mbok jualanin kangkungnya,” balas mbok Leni. “Terimakasih Mbok,” sahut Andi. “Yowes, hati-hati di jalan yah, entar kalau pulang sekolah ke sini lagi untuk ambil uang hasil jualan kangkungnya,” pesan mbok Leni.
Matahari telah menampakkan silaunya, temaram sinar lampu jalan kini tak terlihat lagi, hilang terbelokan cahaya orange berkas surya berbuih. Sepatu Andi yang robek bagian depan, kini menjadi saksi bisu dalam rangka mendapatkan setetes ilmu. Kaki mungilnya kini terus mengayuh sepeda tua yang berhiaskan karat buta. Di dalam lamunan perjalanannya, Andi berharap agar dapat membeli tas baru. Uang dari penjualan kangkung, ia sisakan sedikit demi sedikit agar keinginannya itu tercapai. Tanpa rasa malu, Andi sekarang hanya memakai tas robek yang penuh jahitan tangan ibunya. Sepertinya tas itu tidak mampu lagi menahan beban buku yang dibawanya, meraung kesempitan dan meminta agar mendapat tempat yang lebih bagus dan kuat menahan mereka. Apa boleh buat, Andi hanya diam seribu kata dan berharap uang yang dia tabung dapat terkumpul cepat untuk membeli tas yang baru. Untuk mengantisipasi agar buku-buku yang berdesakan dalam tasnya, Andi meletakannya di keranjang sepeda, bekas manaruh ikatan kangkung tadi.
Hampir setengah jam berlalu, tibalah Andi di depan Madrahasah Tsanawiyah Lematang. Sepeda tua itu diparkirnya di dekat pagar. Langkah kakinya menggiring dia menuju lorong-lorong sekolah. Di sela keramaian siswa-siswi yang berkeliaran di lorong-lorong sekolah, telinga Andi mendengar sesuatu yang memanggilnya. Suara itu semakin mendekat dan kini semakin jelas. “Andi, Andi, Andi!” Suara cewek itu semakin mendekat. Kelihatannya itu adalah Tina, teman sekelasnya. “Andi, kamu menang lomba pidato kemarin, selamat yah!” kata Tina. “Ha? Apakah benar kabar itu tin? Alhamdulillah sekali,” kata Andi. Tina lanjut membalas, “Dan hadiahnya itu di, tas baru yang harganya mencapai 250 ribu. Tas mahal dengan kualitas nomor satu.” “Alhamdulillah Tin, perjuangan ku selama ini tidak sia-sia,” balasnya.
Lima jam di sekolah tampaknya berjalan cepat sekali. Tiap detik, tiap menit, bahkan tiap jam, Andi selalu bersyukur atas hadiah lomba yang dia dapat. Kegembiraan itu tampaknya terpancar mempesona dari wajah lugunya. Senyum sumringah kini membingkai wajah Andi, rasanya dia tak sabar ingin cepat pulang ke rumah, menunjukan tas baru itu kepada emaknya.
Lonceng telah berbunyi, menandakan pelajaran di kelas telah usai. Andi segera berlarian menuju parkir sepeda dekat pagar tadi. Sepeda telah siap untuk dikendarai, dan meluncurlah Andi menuju pasar Lematang. Lagi-lagi dia bersyukur karena hasil dagangan kangkungnya habis terjual. Walhasil, uang biru pun melekat erat di tangannya. Sepeda tua itu dikayuhnya semakin cepat, bahkan secepat kilat. Tak terasa, tubuh Andi yang bermandikan keringat menjadi tanda bahwa dia sangat cepat mengendarai kereta angin itu.
Tibalah dia di depan rumah dengan pemandangan yang tak biasa. Raut mukanya yang sumringah kini berubah menjadi pucat pasi. Pak Norman, pemilik rumah, datang menagih tunggakan bayar sewa rumah. Ibunya cuma pasrah sepertinya mereka akan diusir dari rumah itu. “Emak kita tidak boleh pergi dari rumah ini, lebih baik jualkan saja tas baru ini mak,” kata Andi kepada emaknya. Dengan berat hati Andi menjualkan tas mahal itu untuk membayar sewa rumah. Ikhlas, tidak ikhlas Andi harus ikhlas karena inilah jalan satu-satunya. Hasil penjualan tas, hasil tabungannya selama ini, dan hasil penjualan kangkung tadi dikorbankan untuk membayar sewa rumah. Semua habis tak bersisa, Andi pasrah dan harus memulai dari nol lagi.
Langit kini menjadi gelap, burung-burung di langit terbang pulang ke sarangnya. Tak kalah saing, kelelewar hitam pergi berkelana mencari makan menandakan maghrib telah datang. Andi masih mengenang tas baru itu dan tabungannya selama ini. Celengannya sekarang hampa tanpa uang, sehampa hatinya sekarang. Keinginannya untuk mendapat tas baru itu harus padam dulu, menunggu api rezeki yang diberikan Allah, dimana api tersebut dapat membakar semangat Andi untuk mendapat tas baru lagi. Andi percaya kalau rezekinya tidak akan pernah tertukar. Dia sadar setiap orang ada rezekinya masing-masing, rezeki itu bukan dicari, melainkan dijemput. Untuk sementara ini, dia harus kuat sebagai ulat apabila ingin menjadi kupu-kupu yang terbang bebas dengan sayap kejayaanya.
Malam kian larut, mata pena yang menggoreskan tinta kehidupan di buku diary Andi hampir mencapai limitnya. Sepertinya dia harus membeli tinta kehidupan yang baru. Tubuhnya kini lekas terbaring di dipan tua milik ayahnya. Berjuta impian dan keinginannya masih belum rampung untuk direalisasikan. Otak kanannya masih berproses menuju suatu masa dimana dia nanti mendapatkan dedikasi emas atas perjuangannya selama ini. Andi percaya, orangtuanya ridho, semesta alam bertasbih, dan buih-buih tanda berlian bermunculan. Dia percaya, sebelum menjadi kupu-kupu kesuksesan harus kuat menjadi ulat perjuangan. Senyum pengharapan terukir paksa di wajahnya ketika melihat tas lama yang penuh jahitan itu menggantung di dinding kamarnya. “Selamat malam dunia, bismika allohuma aya wabismika amuut,” bisik Andi membaca doa sebelum tidur tanda mengakhiri aktivitas hari ini.
Cerpen Karangan: Auli Luky Z.
Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar), 4. No. HP yang bisa dihubungi

Berbahagialah !


Kebahagiaan itu kadang egois, mungkin kita tak akan peduli dengan siapapun yang akan terluka. Yang penting itu kita bahagia dan merasa puas. Tidakkah kita berpikir ada orang lain yang juga ingin bahagia, mengapa harus mereka yang akan jadi korban dalam kebahagiaan kita? Mengapa harus mereka yang terluka?

Mungkin itulah yang aku rasakan. Aku merasa sedih sekali, ketika harus menerima kenyataan bahwa keluargaku yang tidak utuh. Mungkin inilah takdir Tuhan! Tetapi, aku tau Tuhan tidak sejahat itu. Tuhan tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Tidak ada sedikitpun orang yang tahu, kalau ada 1000 duka yang aku simpan di hari ulang-tahunku ini. Entah apa yang aku pikirkan? Mungkin aku hanya perlu waktu, menceritakan masalahku kepada seseorang yang aku percaya. Aku tidak mau siapapun yang tau tentang keadaanku ini. Aku pikir, apa mereka akan perduli?

Sebelum berangkat sekolah, aku mencium tangan mama untuk pamit pergi ke sekolah dan disaat itu juga mama mencium keningku serta mengucapkan “Selamat Ulang-Tahun Sayang”.

Tepat jam 07.10 pagi, aku tiba di sekolah. Dengan wajah kupaksakan untuk tersenyum, aku berjalan menelusuri lorong kelas, melewati kakak-kakak kelas dan teman-teman yang lain, yang sedang bercanda ria dan ada juga yang sedang asik membaca buku.

Sesampainya di depan kelasku, aku melihat teman-teman sedang belajar karena hari ini ada ulangan harian. Tiba-tiba, ketika mereka melihat kehadiranku. Mereka langsung mendatangiku, teriak-teriak histeris, memelukku, dan mengucapkan “Selamat ulang-tahun Fiona”. Satu persatu aku menerima jabatan tangan dan ucapan serta doa mereka. Terima kasih teman?
Aku terharu, dengan keperdulian mereka. Aku senang bisa berteman dengan mereka.

Aku berharap di hari ini, aku hanya akan merasakan kebahagiaan dan tidak mau ada kesedihan. Ternyata, semakin aku pikirkan kesedihanku semakin membuatku meneteskan airmata. Hangatnya airmataku yang mengalir di pipiku semakin menjadi, karena aku teringat masa-laluku yang indah.

Di hari ulang-tahunku ini, aku ingin keluargaku berkumpul dan mengucapkan selamat ulang-tahun kepadaku, seperti tahun kemarin. Namun, sepertinya tidak sesuai dengan harapanku karena saat ini semuanya sudah berubah.
Aku rindu, aku rindu keluargaku yang dulu. Aku rindu, ketika aku berumur 3 tahun, ayah dan ibu membelikanku kue ulang-tahun yang sangat enak dan kami merayakannya berempat bersama kakakku.

Teman-temanku, sahabatku, guru-guru, orang-orang tersayang, keluarga, dan ibuku mengucapkan dan menyertakan doa untukku agar selalu menjadi yang terbaik dan memberikan harapan yang terbaik. Aku senang mereka mengingat hari lahirku. Tetapi, sekejap aku ingat seseorang, aku merasa ada yang kurang. Kalian tahu itu apa?
Aku merasa ada yang kurang, karena ayahku belum mengucapkannya. Aku menunggu dan terus menunggu. Aku sedih, apa dia lupa? Apa dia tidak tau hari ini adalah hari ulang-tahunku?

Bisakah kalian merasakan? Sedih yang aku rasakan. Jauh dari ayah karena perpisahan orangtua yang menyebabkan anak jauh dari salah satunya. Tidak bisa merasakan kasih-sayang yang sempurna dari keduanya. Sanggupkah kalian jika harus melupakan masa lalu yang indah dan masa kecil yang bahagia itu?

Terkadang, aku merasa tidak cukup kuat menghadapi kenyataan ini, masalah-masalah yang terus datang silih-berganti, dan belum lagi harus bisa konsentrasi saat belajar di sekolah.

Setelah menunggu lama, akhirnya Ayahku juga ingat dengan hari lahirku. Aku menangis, karena sebenarnya masih ada keperdulian dari Ayah. Meskipun, pada malam harinya Ayah baru mengucapkannya. Aku terharu mendengar kata-kata Ayah agar aku bisa menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak, tetap mempertahankan prestasiku dan selalu menjaga kesehatan. Terima-kasih Ayah! Aku menyayangimu.

Selama aku berumur 15 tahun, beribu-beribu cobaan yang aku terima. Aku sempat jatuh dan terpuruk dalam penderitaan itu. Namun, aku tetap berjuang dan tidak pernah putus asa. Aku tahu, mungkin aku cukup kuat menjalani ini semua. Aku mencoba menutupi masalah hidupku agar prestasiku tidak menurun. Dan aku mencoba menganggap semuanya baik-baik saja. Pedih yang kurasakan menjalani semua sandiwara ini.

Tepatnya hari ini, umurku sudah bertambah satu tahun. Semoga aku bisa lebih dewasa dan aku harus bisa mencoba menerima semua kenyataan ini. Tidak pernah putus asa dan terus semangat. Karena semua yang berlalu, belum tentu bisa kembali.

Perlunya Motivasi dan spirit untuk menyemangati anak seperti kami agar tidak jatuh, sangat diperlukan dengan mengkondisikan keadaan seperti saat semua baik-baik saja.

Dengarlah jeritan kami! Mungkin tanpa orangtua sadari, KAMI! Anak-anakmu menanggung “Beban Psikis” yang luar biasa kuat. Kehilangan kasih sayang, kehilangan penopang, kehilangan tempat “bernaung” dan paling fatal adalah kehilangan “jiwa dan diri sendiri”.
“.. Kami anak-anakmu, perhatikan kami, kami tak cukup kuat untuk semua ini. Kami anak-anakmu dan tolonglah kami. Yang kami ingin hanya, semuanya KEMBALI ..”

Teman, ingatlah! keterpurukan terus menerus akan membuat kita jatuh, maka bangkitlah!! Kita tidak sendiri, yakinlah Tuhan selalu ada untuk kita. Berbahagialah! Kamu termasuk orang yang beruntung bisa menjalani hidup dengan keluarga yang utuh. Manfaatkanlah hidupmu dengan sebaik-baiknya. Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.

Mungkin, seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir “Ini adalah Akhir dari segalanya”, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata “Tenang sayang, itu hanyalah belokan bukan akhir!”. Semua akan indah pada waktunya, Percayalah!

*Dengan membangun mental bahwa realitanya kita masih hidup dan HARUS hidup akan membantu kita untuk bangkit, Sabar dan bahagiakanlah dirimu, kawan!*

Cerpen Karangan: Auli Luky Z.

Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar, 4. No. HP yang bisa dihubungi

Aku dan Rumus


Namaku Mega, aku adalah seorang pelajar SMP yang baru berumur 14 tahun. Seperti remaja pada umumnya aku sangat senang sekali menjelajahi dunia internet, mulai dari facebook, twitter, sampai Yahoo mail sudah aku kuasai, sampai terkadang aku lupa waktu belajar. Sebagai pelajar seharusnya aku belajar setiap harinya, apalagi sebentar lagi aku akan segera melaksanakan UN (Ujian Nasional). Sebuah kalimat yang mengerikan bagiku dan pelajar lainnya, yaaa… memang tak asing lagi bagiku kata UN, hampir setiap hari guru mengigatkannya.

Ohh sial, pagi ini harus bertemu dengan angka angka dan rumus rumus yang membuat jatungku meledak, memang tidak asing lagi bagi siapa saja yang mendengar kata “Rumus” yaaa… rumus memang menjadi hal yang wajib dalam pelajaran Matematika dan Fisika (salah satu pelajaran yang aku musuhi).

“Ohh leganya bisa bernafas kembali dan melewatkan pelajaran yang sudah membuatku pusing”. Ujarku.

“Apa sebegitu bencinya kau dengan rumus?”. Ujar salah satu temanku.

Memang tak bisa aku pungkiri jika aku merasa takut ketika melihat rumus. Angkanya yang membingungkan dan rumusnya yang membuatku pusing menjadi faktor utama. Pada waktu masuk kelas, tiba saatnya pelajaran bahasa Indonesia, oh senangnya hati saya seperti malam merindukan bulan, oh senangnya tidak melihat rumus-rumus menjengkelkan itu lagi, saya sangat bahagia belajar tanpa rumus, hati riang membelah angkasa, tiba-tiba bel berbunyi, yeee… pulang, baca doa, beri salam pada guru, lalu pulang ke rumah dengan hati yang membisik langit.

Sesampainya di rumah aku mulai menyadari bahwa rasa takutku pada rumuslah yang akan menghancurkan semua cita citaku, kita tidak akan bisa hidup tanpa menghitung dan yang paling aku ingat adalah Matematika dan Fisika itu termasuk pelajaran yang di UN kan. Aku mulai berfikir dan intropeksi diri, keegoisanku dan tak ada usaha juga yang telah mempengaruhiku untuk membenci rumus.

Seiring berjalannnya waktu aku mulai merubah diri. Hari demi hari telah aku lewati, begitu pula dengan rumus demi rumus yang sudah aku hafalkan, dan seperti air yang mengalir aku mulai menyukai rumus.

Sekarang rumus sudah menjadi sahabat yang melekat di hari hariku, dan aku baru tersadar bahwa sebenarnya rumus itu sangat mudah untuk dipelajari asalkan kita mau belajar dan berusaha, karena kunci kesuksesan adalah dari diri sendiri. Kita bisa mencapai langit ke 7, tapi sebelum itu harus melewati langit pertama dan seterusnya, karena di dunia ini kita tidak hidup sendirian, masih banyak manusia lain yang ingin menggapai langit ke 7.

Biarkan mereka menjadi saingan, karena memang terkadang hidup perlu bersaing. Jangan biarkan kamu jatuh terbelenggu sebelum menggapai cita citamu, tunjukan kemantapanmu untuk berusaha sungguh sungguh mempelajari apa yang belum pernah kamu pelajari dan mencoba untuk melakukan apa yang belum pernah kamu coba. Dan yang terpenting adalah cobalah untuk mendekati apa yang kamu tidak suka daripada menjauhi apa yang kamu tidak suka.

Karya : Auli Luky Z.

Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar, 4. No. HP yang bisa dihubungi

Wanita Mentari


Rona warna gelap
Muncul di balik utara
Menerawamg seberapa digit dalam kegelisahan…
Aku terpenjara dalam kekuasaan waktu
Mengapa begini?
Terperangkap dalam mendung
Terbang dalam pelangi
Meniti cinta abadi,


Wanita mendung itu menerawang di balik jendela rapuh, kini ia dalam jeratan kesedihan yang mendalam. Ia menyapa pagi dengan kelam, menanti malam yang cepat datang. Penuh harap kasih.


Adler, itulah sapaannya sejak memasuki dunia nyata dulu, beberapa kala itu. Adler menjalani dengan indah, tak ada yang mengalahkan dunianya.


Perjalanan yang tidak ada batas jejaknya, tak ada pemberhentian, tak ada kata lelah. Sungguh sangat indah menikmati sisi dunia yang satu ke sisi dunia yang lain, dari barat hingga timur, bahkan dari utara ke selatan. Menanti hidup yang tanpa ujung.


Simfoni kisah dahulu kini hanya serpihan dari keelokan hidup. Ia kini hanya wanita sebatang kara yang duduk di balik jendela menanti keajaiban datang tak terduga. Menanti..


Ia terpuruk sejak kisah baru yang sangat melekat tak terlepas dari jaln kehidupannya. Suatu kisah yang tak ada tandingannya. Tertinggal oleh zaman yang hanya titik duri yang menghentikan semuanya. Pupus
Namun, kini kisah itu menjadi sebuah mimpi buruk yang benar-benar terjadi di kenyataan hidup. 


Saat terngiang “Adler, ingatlah nanda aku dan ayahmu harus menjejaki dunia di sisi lain, aku harus ke sisi kanan dunia ini. Kan kutunggu dirimu nanda, selamat tinggal”. Inilah sepenggal kata yang menyayat hati, bahkan menjadi kisah awal Adler menjadi WANITA MENDUNG.

“WANITA PELANGI”. Dengan senyuman, kicauan suara nan indah, mentari pagi, bersama menyambut kisah. Menerawang dengan indah dengan bola mata birunya yang tak tertandingi. Dulu.


Wanita mendung. Ini masa ku, hanya sebuah kata yang tersirat maknanya dan lagi-lagi menambah sendu di dada. Bahkan deretan huruf itu menjadi awal kisah perjalanan Adler selanjutnya.


Rangkaian kisah-kasih yang terkristal itu. Hanya akan jadi rona gelap baginya, namun mengapa begini?. rona gelap itu menghadirkan bola mentari yang rasakan jauh dalam rotasi kehidupan.


Kini wanita mendung terurai oleh bola mentari dan menjadikan Adler wanita mentari yang menghias pagi sang alam semesta.


KARYA : Auli luky Z.

Jika Anda mempunyai Cerpen karangan sendiri, Cerpen Anda Bisa Anda Kirimkan ke Email : auli.luky1999@gmail.com, untuk di Publikasikan dengan cara : 1. Nama Pengarang, 2. Alamat, 3. Sekolah(Khusus yang Masih menjadi pelajar, 4. No. HP yang bisa dihubungi